Musriadi : Aglomerasi dan Gerakan Swadaya Masyarakat

Desa merupakan permukiman, wilayah administratif di Indonesia dibawah kecamatan, merupakan kumpulan dari beberapa unit permukiman kecil yang disebut kampung atau dusun.

UU no. 6 tahun 2014 Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa merupakan aset penting Indonesia yang memiliki potensi mensejahterakan, jika dikelola sebaik munkin.

Swasta lokal harus lebih banyak menyentuh desa secara berkelanjutan, dan banyak berperan, berkontribusi sebagai penyangga ekonomi dalam desa.

Aglomerasi dengan beberapa elemen mulai dari pemerintah, akademisi, swasta, tokoh masyarakat, agama dan pemuda-pemudi menjadi pemacu dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, menjaga kekompakan elit didesa, serta membangun cara berpikir dialegtis, mengabaikan emosional antagonis diluar logika.

Peduli lingkungan mulai dari individu kemasyarakat (kesadaran Kolektif) gerak swadaya, menghindari ancaman Sumber Daya Alam yang tidak dikelola dalam sudut pandang Ekologis.

Kesemestian memperlakukan Alam seperti merawat diri sendiri, guna menghindari ancaman Sumber daya Alam.

terjemahan tentang kerusakan lingkungan Alam dalam Al-Qur’an, Surah ar Rum, ayat: 42 artinya; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia sehingga akibatnya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari perbuatan mereka agar mereka bertaubat.

Membangun gerak swadaya, kesadaran Masyarakat, bahwa Habitat atau lingkungan ini milik kita, jangan menunggu orang dari luar desa kita mempedulikannya. Sampah yang sulit terurai selama puluhan tahun semacam Plastik dan lain-lain, menjadi keresahan, bagi yang memahami dampak Ekologis, sehingga dibutuhkan gerak swadaya dan merancang systema dalam pengelolaan sampah.

Aglomerasi Swasta mendorong kemandirian ekonomi dan pembangunan didesa, merangsang masyarakat bergerak bersama, menghegemoni masyarakat dalam, dan dari luar menyukai produk-produk usaha lokal.
Menghindari persaingan usaha dengan membangun kerangka ekonomi silang.

Mengesampinkan politik kelompok, dan kepentingan pribadi, yang lebih banyak memanfaatkan retorik dengan nada Antagonis dari pada inovatif, penyaringan ketokohan yang otentik dengan membuang kesadaran palsu yang munkin masih ada saat ini.

Medorong literasi sebagai perjalanan pemahaman kesadaran otentik, bersaing secara Ide, mengaliri dimensi kehidupan ini dengan kebaikan, merugi rasanya hidup kalau tidak mampu berbuat kebaikan. (*)